Usaha dakwah dan tabligh merupakan ibadah penting dan karunia yang sangat mulia. Usaha ini adalah warisan para Nabi Alaihimussalam. Jika suatu usaha itu tinggi, sudah tentu mempunyai adab dan tata tertib yang tinggi pula. Maksud usaha ini bukan hanya untuk menghasilkan hidayah bagi orang lain, namun yang paling utama adalah untuk memperbaiki diri sendiri dan menunaikan penghambaan kita kepada Allah Subhaanahu wata'ala, juga sebagai usaha untuk selalu menaati perintah-Nya dan mencari ridha-Nya. Untuk itu, ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan dan dijaga secara istiqamah.
- Menanggung sendiri biaya makan, minum, ongkos kendaraan, dan biaya-biaya lain. Jika ada kelebihan, kita bisa membantu biaya kawan-kawan yang kurang mampu.
- Menghormati sesama teman dan menganggap bahwa berkhidmat kepada mereka adalah suatu karunia yang besar. Jangan mengurangi adab dan penghormatan kepada mereka.
- Bersikap tawadhu dan rendah hati di hadapan setiap muslim dengan berkata lemah-lembut kepada mereka, serta berusaha mengambil hati mereka. Jangan memandang terhadap setiap muslim dengan pandangan menghina atau membenci. Khususnya kepada para ulama, hendaknya kita memuliakan dan menghormati mereka. Jangan sampai kita mengurangi penghormatan kepada mereka. Sebagaimana kita wajib monghormati, memuliakan, dan beradab kepada Al-Qur'an dan hadits, seperti itu pula kita memuliakan dan menghormati ulama. Karena Allah Subhaanahu Wata'ala sendiri telah memberi mereka karunia yang istimewa. Menghina ulama sama dengan menghina agama, yang akan menyebabkan kemurkaan Allah Subhaanahu Wata'ala.
- Menghindari dusta, ghibah (membicarakan keburukan orang lain), bertengkar, bermain-main, dan bersenda gurau pada waktu luang. Waktu-waktu luang lebih baik digunakan untuk duduk dengan orang-orang yang menjaga amalan agamanya dan untuk membaca buku-buku agama, sehingga kita dapat mengetahui firman Allah Subhaanahu Wata'ala dan sabda Rasul-Nya. Khususnya pada waktu keluar di jalan Allah Subhaanahu Wata'ala, hindarilah ucapan dan perbuatan yang sia-sia dan gunakanlah waktu luang untuk berdzikir, berpikir, bersholawat kepada Baginda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan beristighfar, serta saling belajar dan mengajar di antara sesama jamaah.
- Usahakanlah untuk mencari penghasilan yang halal dan menggunakannya sesuai dengan keperluan. Selain itu, hendaknya menunaikan hak-hak keluarga, sanak saudara, dan orang lain sesuai dengan syariat.
- Jangan menyinggung masalah-masalah yang menimbulkan perdebatan, atau masalah khilafiyah. Berdakwahlah selalu mengenai tauhid dan menyampaikan rukun Islam.
- Setiap amalan dan ucapan hendaknya dihiasi dengan niat yang ikhlas. Amal yang sedikit yang disertai dengan keikhlasan akan mendatangkan rahmat, berkah, dan menghasilkan kebaikan. Sebaliknya, jika suatu amalan tanpa keikhlasan, maka di dunia pun tidak ada hasilnya dan di akhirat tidak mendapat pahala. Ketika sayyidina Mu'adz bin Jabal Radhiyallahu 'anhu dikirim oleh Baginda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjadi pimpinan di wilayah Yaman, maka ia berkata, "Ya Rasulullah, nasihatilah saya!" Beliau bersabda, "Jagalah keikhlasan dalam setiap amalanmu. Dengan keikhlasan, amalan sedikit saja sudah mencukupi." Hadits lain menyebutkan, "Allah Subhaanahu wata'ala hanya menerima suatu amal jika dilakukan dengan ikhlas." Riwayat lain menyatakan, "Sesungguhnya Allah Subhaanahu wata'ala tidak melihat wajah dan hartamu, tetapi Dia hanya memandang hatimu dan amalanmu." Ringkasnya yang terpenting adalah keikhlasan, yaitu beramal tanpa riya' sedikit pun. Sejauh mana amalan itu dikerjakan dnegan ikhlas, sejauh itu pula ia akan meningkat dan berkembang.
Thanks for reading & sharing TA'LIM HARIAN
